Archive for June, 2006

Itik Sarati Panggang

Friday, June 9th, 2006

Pernahkah terbayang, makan Itik Sarati panggang di sebuah desa yang dikelilingi sungai, setelah sebelumnya ikut mengejar-ngejar itik tersebut. Hahaha… Inilah sepenggal catatan perjalanan.

Setelah mengikuti evaluation meeting di Martapura, kami bersebelas orang dari berbagai tempat memakai waktu luang untuk mengunjungi seorang teman di Desa Handil Baru, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar. Untuk sampai ke desa tersebut, tidak ada jalan darat yang bisa dilalui. Jalan darat dari Martapura hanya berujung di Basirih, sebuah wilayah dekat muara sungai yang berujung di Sungai Barito. Kemudian perjalanan disambung dengan klotok (perahu bermesin tempel) selama 15 menit. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan rumah-rumah pinggir sungai, pohon nipah dan hamparan padi siam unus yang tinggi rumpunnya bisa mencapai 1,5 meter. Bersyukur kami sampai di Basirih sekitar jam 5 sore sehingga air masih cukup banyak, kalau terlambat, bisa batal perjalanan kami karena sungai mulai surut dan tak bisa dilewati klotok.

Hingga akhirnya sampai di sebuah desa yang dikelilingi sungai. Semua rumah di desa tersebut berbentuk panggung dengan bahan kayu ulin dan beratap seng dan anyaman daun nipah. Kayu ulin disana juga dikenal dengan nama kayu besi, sangat kuat, kokoh dan tahan terhadap air. Konon semakin lama terendam air, maka si kayu semakin kuat pula. Di desa ini rumah satu ke rumah yang lain benar-benar dihubungkan dengan sungai yang harus dilewati dengan klotok atau jembatan kayu ulin yang kecil, panjang, tanpa pagar pembatas dan bergoyang-goyang ringan ketika dilewati. Seorang teman yang takut dengan goyangannya terpaksa harus merangkak agar bisa mencapai ujung jembatan. Sungguh menggelikan. Inilah Venesia van Banjar…

Pak Syamsuri dan keluarga, tuan rumah dengan senang hati menerima kedatangan kami. Sejenak kami beristirahat, lesehan saja sambil berselonjor di teras kayu ulin, tanpa alas tikar, benar-benar menikmati ademnya kayu ulin diselingi hembusan angin sejuk, ngobrol dengan tuan rumah serta takjub dengan desa yang dikelilingi sungai berair coklat. Beberapa teman mencoba menyusuri sungai dengan jukung (perahu dayung). Tiba-tiba Pak Gani, seorang teman lain yang juga penduduk desa tersebut datang membawa dua ekor itik Sarati. Itik Sarati ini adalah itik peranakan antara Mentok yang bertubuh gemuk berleher agak pendek dengan itik Alabio yang berleher panjang dan elegan. Sebenarnya penduduk setempat menamainya Itik Bekisar, tapi nama Sarati lebih dikenal di daerah lain. Warna bulunya coklat diseling warna hitam kehijauan. Moncongnya (cucuk) mirip dengan Mentok. Tubuhnya gemuk dan gempal.

Walaupun Sarati sudah ditangan, ternyata kami masih harus berlarian mengejarnya. Ketika prosesi penyembelihan, Pak Gani memegang Sarati dan Pak Syamsuri menghunuskan pisau ke leher makluk menggemaskan ini dengan posisi menghadap kiblat dan mengucap Bismillah. Dibiarkan darah yang keluar dari leher menetes di tanah, lalu dilepas ke sebuah tempat berpagar bambu, yang menyerupai kandang supaya mati di tempat tersebut. Tetapi ternyata itik ini masih bandel, walaupun urat leher sudah putus, itik ini menyelusup melewati pagar bambu lalu terjun ke sungai dan kembali berenang dengan riang. Itik kedua pun melakukan hal yang sama. Sehingga akhirnya beberapa dari kami, dan juga anak-anak Pak Syamsuri terjun ke sungai mengejar-ngejar itik yang terlihat lucu berenang dengan urat leher yang putus.

Tak berapa lama tertangkap pula si itik. Di dapur kami pun sibuk memasak air untuk mencabut bulu-bulunya, memasak nasi dan menyiapkan bumbu panggangan.  Bumbunya sederhana, hanya bawang merah dan bawang putih yang dihaluskan dengan disertai garam. Terlebih dahulu si itik di ungkep dengan bumbu tersebut, supaya tidak terlalu lama memanggangnya. Baru kemudian dipanggang diatas bara kayu dengan sesekali dibolak-balik dan diolesi kecap manis yang dicampur dengan minyak goreng. Itik ini dipanggang dalam ukuran cukup besar, tapi setelah matang, dipotong-potong. Bu Syamsuri sebagai Nyonya rumah cekatan memotong itik panggang lalu menatanya secara adil di sebuah piring lauk yang berukuran kecil, dan menyiramkan bumbu cocolan. Bumbu cocolan itik ini terdiri dari bawang merah dan bawang putih yang dipotong kasar lalu ditumis hingga layu lalu dihaluskan dengan garam, cabe kering yang direndam air lalu dicacah hingga halus, kemudian semuanya dicampur dengan ditambah kecap manis, sedikit air matang, dan sambal botol.

Setelah semuanya siap, tikar dihamparkan di lantai rumah kayu ulin tersebut. Makanan ditata secara personal. Sepiring nasi didekatkan dengan satu piring kecil berisi itik panggang, air putih, dan mangkok berisi air untuk cuci tangan. Selain itu ada beberapa piring cabe rawit kering yang berasa asin, beberapa piring isi terong bakar, dan beberapa bakul nasi untuk mereka ingin nambah dan kain lap bersih untuk tangan. Semuanya ditata berbaris melingkar sejumlah kami semua seisi rumah. Setelah doa bersama yang dipimpin Pak Syamsuri, acara melahap pun dimulai. Saya melihat semuanya begitu lahap menikmati nasi itik panggang, bahkan menambah nasi lagi. Entah karena lapar sekali setelah atau memang itik panggang ini berasa istimewa. Namun itik Sarati panggang ini memang berasa lain. Dagingnya tebal, masih berasa segar setengah matang, berasa manis, guirih, dan tidak alot. Selesai makan Pak Gani bilang, "Kalau menurut kami, itik ini baunya harum dibanding itik biasa." Mmm… saya mencoba merekonstruksi pengalaman saya, memang tak saya jumpai bau harum bunga, tapi itik ini memang tidak berasa amis sama sekali walaupun dimasak dengan bumbu sederhana. Bagian kulitnya pun tidak berlemak.

Selesai makan, beberapa teman yang tidak ikut terjun ke dapur memuji rasanya serta bertanya tentang cara masak dan bumbunya. Semuanya memuji menu makan malam hari ini. Hari sudah malam, kami kembali duduk-duduk di teras depan, berbincang tentang desa dan kota. Air di depan kami surut sama sekali, terlihat kilau warna lumpur basah tertimpa cahaya bulan.

Dini hari, air masih surut, sehingga kami baru bisa keluar desa jam 06.30. Sudah terlalu siang untuk melihat Pasar Terapung di Sungai Barito, namun tak membuat kami mengurungkan niat. Memang benar, setelah 40 menit perjalanan sampai di Pasar Terapung, suasana sudah sepi, hanya ada beberapa pedagang saja. Kami menghentikan klotok sejenak untuk minum teh dan makan wadai (kue-kue) di atas Sungai Barito, lalu melanjutkan perjalanan ke Pulau Kembang, melihat kera-kera yang konon nenek moyang kita.