Friend(s) will be friend(s) part I
"Friends come and go, a couple or two stay remain…"
Kenanglah, sejak SD hingga sekarang, siapa yang pernah menjadi teman dekatmu, yang pernah menjadi teman paling intim dalam setiap tahap kehidupanmu? Mungkin kau bisa menghitung hingga seluruh jarimu tak cukup untuk menghitung. Tapi sekarang, siapa diantara mereka yang masih tertinggal? Mungkin jari di satu tanganmu masih tersisa untuk menghitung. Demikian juga aku.
Bertha adalah salah satu teman dekat yang "masih tertinggal" sejak SD. Perbedaan antara kami bagai bumi dan langit. Saat SMP, dia aktivis dan leader di sekolah, aku suka ngobrak-abrik perpustakaan agar bisa melahap Putu Wijaya dan Gerson Poyk. Ketika SMA, dia suka pesta dan dipuja, aku lebih suka nongkrong di "smile camp", wedangan, dan nulis untuk bulletin gereja. Berlanjut di dunia mahasiswa, kami tidak satu kampus. Kamar kosnya dikelilingi boneka, gayanya chic abis, kegiatan berkuda, paduan suara, dan dikelilingi pria yang memujanya. Aku sekedar aktivis jalanan yang juga mondar-mandir dari gunung ke gunung, berpenampilan seperti gembel –sandal jepit, jeans dan t-shirt, dan dikelilingi pria yang menganggapku "sama" dengan mereka.
Diantara kesibukan kuliah, aku di Salatiga, dia di Yogya, sesekali kami bertemu namun pembicaraan tak pernah nyambung, karena aku bicara orang-orang yang terpinggirkan, dan dia bicara mimpi-mimpi kapitalistiknya. Bicara tentang buku, film, musik, makanan, apalagi lelaki… Selera kita tak pernah sama… Pernah suatu ketika aku sangat muak dengannya dan tak pernah ingin bercakap satu kata pun.
Sekarang Bertha adalah seorang istri dan ibu seorang gadis kecil. Aku terpaksa masih memperpanjang keanggotaan di Klub Jojoba. Hahaha… Bertha, dosen yang selalu mengeluh dengan keadaan kampusnya. Aku kerja menemani petani dalam kesederhanaannya. Aku suka cooking and baking, sementara apresiasinya terhadap makanan… payah!
And times go by… dan persahabatan tak melulu karena adanya persamaan. Bagiku dialah orang paling dekat dan paling lama mendiami persahabatan ini. Baginya, aku pun satu-satunya orang yang masih setia dengan persahabatan ini. Saling mengagumi satu sama lain, saling mencerca satu sama lain, saling membagi kegelisahan dan sukacita… Kadang kami masih bertanya, "Kok kita bisa ya berteman begini lama, padahal kita sangat jauh berbeda."
Kutulis ini untuk mengingat dan berterimakasih atas persahabatan yang indah antara kami. "Thanks for being my friend, and I love you."