Archive for May, 2006

Friend(s) Will Be Friend(s) Part II

Monday, May 15th, 2006

"Friends come and go, just a couple or two stay remain."
Satu kondisi yang paling mendukung status bujangku adalah bahwa, aku merasa punya banyak teman. (Ah, mungkin tidak terlalu banyak, toh friends list di friendsterku pun cuma 70 orang). Aku bisa memilih dengan siapa aku bisa membagi tawa, bernyanyi dan melucu sampai gila, dengan siapa aku bagikan sakit dan benci, dengan siapa aku mendiskusikan pekerjaan, dengan siapa berbicara tentang lelaki, tentang bisnis, tentang seks, tentang Tuhan…

Namun kadang teman terasa jauh. Sepi dan kesendirian pun kembali mencekam. Aku selalu merasa takut kehilangan teman. Aku selalu merasa pedih ketika kehilangan teman. Minggu kemarin aku merasakan itu. "Seorang teman" hilang. Namun akhir minggu kemarin ada teman yang muncul secara bersamaan, mengingatkanku bahwa aku punya banyak teman, dan terlebih lagi mereka mengingatku dan menyayangiku.

Titik, teman semasa kuliah tiba-tiba datang dan menginap 2 hari di rumah. Kami jalan-jalan belanja baju, ke Pasar Gede, wedangan, makan mie toprak Yu Nani, ke Shi Jack, dan ngendon di kamar menghabiskan film tontonan. Kami saling bercerita dan dia banyak mendorongku,
"Soale kamu ini terlalu banyak minatnya sih. Semua bisa kau lakukan, tapi hanya permukaannya saja. Kudune kowe kie fokus…"
"Ayo, pokoke kowe saiki bertindak cari sekolah, apply Stuned, gak hanya mengangankan. Nanti aku akan bantu. Kuawasi terus kau. Nanti bulan Juli aku kesini lagi, ngecek usahamu sudah sampai seberapa…"
Hahahaha… Aku ngakak dan bersyukur.

Dyah,
seorang teman yang dulu pernah satu kos di masa kuliah kirim sms mengabarkan ibunya.
Agus
, malam-malam telphone; bercerita dan bertanya. Minta doa restu untuk interview di Oxfam Makassar.
Sugeng, terpaksa membatalkan janji karena simbahnya sakit.
Fera
, kirim sms, "Halo ses Hale, akhir minggu ini kita melepas rindu
bersama ya…" Oh, thanks God!!! She will come, I miss her so much!
Khoir
, seorang teman dari masa lalu, ketemu di mIRC, dan dia langsung mengenaliku hanya setelah kata pertamaku, "Khoir?" Uh, dah menikah dengan Jeanny dan dikaruniai Keyla.
Dan masih beberapa teman lama yang menyapa lewat sms di saat yang sama.

Semuanya jarang kujumpai. Tak mesti sebulan sekali, tiga bulan sekali, bahkan setahun sekali. Namun kehadiran mereka pada saat sepi dan kesendirian kembali mencekam mengingatkanku akan arti pertemanan. Tak satu pun dari mereka yang tahu apa yang sedang kurasakan, tapi mereka datang dan menghadirkan kelegaan.

Kutulis ini untuk mensyukuri pertemanan yang telah terjalin dan telah ada dalam hidupku sampai saat ini.

Friend(s) will be friend(s) part I

Monday, May 15th, 2006

"Friends coMe_and_herme and go, a couple or two stay remain…"

Kenanglah, sejak SD hingga sekarang, siapa yang pernah menjadi teman dekatmu, yang pernah menjadi teman paling intim dalam setiap tahap kehidupanmu? Mungkin kau bisa menghitung hingga seluruh jarimu tak cukup untuk menghitung. Tapi sekarang, siapa diantara mereka yang masih tertinggal? Mungkin jari di satu tanganmu masih tersisa untuk menghitung. Demikian juga aku.

Bertha adalah salah satu teman dekat yang "masih tertinggal" sejak SD. Perbedaan antara kami bagai bumi dan langit. Saat SMP, dia aktivis dan leader di sekolah, aku suka ngobrak-abrik perpustakaan agar bisa melahap Putu Wijaya dan Gerson Poyk. Ketika SMA, dia suka pesta dan dipuja, aku lebih suka nongkrong di "smile camp", wedangan, dan nulis untuk bulletin gereja. Berlanjut di dunia mahasiswa, kami tidak satu kampus. Kamar kosnya dikelilingi boneka, gayanya chic abis, kegiatan berkuda, paduan suara, dan dikelilingi pria yang memujanya. Aku sekedar aktivis jalanan yang juga mondar-mandir dari gunung ke gunung, berpenampilan seperti gembel –sandal jepit, jeans dan t-shirt, dan dikelilingi pria yang menganggapku "sama" dengan mereka.

Diantara kesibukan kuliah, aku di Salatiga, dia di Yogya, sesekali kami bertemu namun pembicaraan tak pernah nyambung, karena aku bicara orang-orang yang terpinggirkan, dan dia bicara mimpi-mimpi kapitalistiknya. Bicara tentang buku, film, musik, makanan, apalagi lelaki… Selera kita tak pernah sama… Pernah suatu ketika aku sangat muak dengannya dan tak pernah ingin bercakap satu kata pun.

Sekarang Bertha adalah seorang istri dan ibu seorang gadis kecil. Aku terpaksa masih memperpanjang keanggotaan di Klub Jojoba. Hahaha…  Bertha, dosen yang selalu mengeluh dengan keadaan kampusnya. Aku kerja menemani petani dalam kesederhanaannya. Aku suka cooking and baking, sementara apresiasinya terhadap makanan… payah!

And times go by… dan persahabatan tak melulu karena adanya persamaan. Bagiku dialah orang paling dekat dan paling lama mendiami persahabatan ini. Baginya, aku pun satu-satunya orang yang masih setia dengan persahabatan ini. Saling mengagumi satu sama lain, saling mencerca satu sama lain, saling membagi kegelisahan dan sukacita… Kadang kami masih bertanya, "Kok kita bisa ya berteman begini lama, padahal kita sangat jauh berbeda."

Kutulis ini untuk mengingat dan berterimakasih atas persahabatan yang indah antara kami. "Thanks for being my friend, and I love you."