Doa Petani

Petani
Kudengar Mbah Kung[1]
berdendang riang sambil bekerja di sawahnya yang tak seberapa luas. Tangan
tua yang legam terbakar matahari itu lincah mengayunkan pacul, dirapikannya
tanah yang membentang sepanjang pematang.

Mbah Kung sudah tidak muda lagi. Usia Beliau
77 tahun di bulan Agustus mendatang. Mbah
Kung
tidak tahu persis tanggal kelahirannya. Beliau hanya ingat, ketika kemerdekaan
Indonesia diproklamasikan, usia Mbah Kung saat itu baru saja menginjak
16 tahun. Mbah Buyut, orangtua Mbah Kung, sudah mulai merembug jodoh
untuk Mbah Kung. Namun Mbah Kung memilih jalannya sendiri. Ditinggalkannya
desanya di Wonogiri menuju
kota Yogyakarta agar bisa ikut serta dalam
kegembiraan kemerdekaan. Hingga akhirnya bergabunglah Mbah Kung dalam pasukan gerilya di daerah Kedu selama perang
revolusi.

Selesai
perang revolusi Mbah Kung memilih
untuk pulang ke desa. Saat itu Mbah Kung
menikah dengan Sipon–yang kemudian menjadi Mbah
Putri
saya. Praktis kehidupannya berlanjut di desa. Mbah Kung membantu Mbah Buyut
mengusahakan sawah, karena Mbah Kung-lah
anak satu-satunya.

Sementara
aku adalah cucu tertua Mbah Witoatmodjo.
Mungkin aku cucu yang paling dekat dengan Simbah.
Sejak SD hingga SMA, setiap liburan aku
selalu mengunjungi Simbah. Ketika
liburan kelas 4 SD, orangtuaku sudah melepaskan aku naik kereta api Argo Lawu sendirian
dari
Jakarta ke Solo, agar aku bisa berlibur di rumah Simbah di Wonogiri. Sampai di Stasiun Balapan
Solo, Bu Lik[2]
Yanti yang sekolah di Solo sudah menungguku disana dan akan mengantarku ke
rumah Simbah.

Sekarang
aku di tahun ketiga perkuliahanku di Fakultas Pertanian UGM. Aku ingin menjadi
petani, seperti Mbah Kung. Sebulan
sekali di akhir pekan, aku mengunjungi Mbah
Kung
, dan ikut turun ke sawah dengan Mbah
Kung
.

Pagi ini,
kesekian kalinya aku bekerja dengan Mbah
Kung
di sawah. Kusiangi rumput-rumput liar yang tumbuh di sela padi yang
subur. Kubiarkan kakiku telanjang dan penuh lumpur, tanpa sepatu bot. Tanah
sawah Mbah Kung hitam berkilat, gembur dan banyak cacingnya. Ini semua karena pupuk
kandang dari kandang sapi belakang rumah.

“Itulah Wan, Mbah Kung ora kerso[3] pake pupuk dari koperasi. Jadinya ya Pak
Lik-mu ini yang harus sedikit repot bantu ngangkat tai dari kandang. Coba kalau
mau, kan mudah, tidak perlu butuh pupuk sebanyak ini. Pupuknya pun bisa diantar
pegawai koperasi langsung ke sawah, tinggal tambah sedikit ongkos.”
Gerutu
Pak Lik Sardi sambil menurunkan pupuk kandang di gerobak dengan sekopnya.

“Lha wong sekarang ini apa-apa kan sudah maju. Pupuk
tinggal beli. Kalau belum ada uang, ngutang pun bisa. Kalau ada hama, di toko
juga banyak pilihan obatnya, tapi Simbahmu itu tetep aja pakai cara kuno
seperti ini. Ingat gak dua tahun lalu, sawah Mbah Kung ini hampir habis
diserang keong mas. Heh!”
Disekanya keringat yang mengucur deras di dahi. Mahatari sudah sangat menyengat
pada pukul 8 pagi itu. Aku tak membalas ucapan Pak Lik Sardi. Kuteruskan
pekerjaanku mengangkat pupuk ke sawah.

“Memang aneh Mbah Kung itu, Wan.
Coba kau pikir, semua tetangga tanam padi bisa 3 kali setahun, atau paling
tidak 5 kali dalam dua tahun. Lagi-lagi kemajuan jaman, tanah tidak usah
dibero-kan masih bisa memberikan hasil yang baik. Kalau Simbahmu ya tetep aja
tanam padi 2 kali setahun. Alasan Mbah Kung biar tanahnya istirahat.. Lha wong
tanah kok istirahat, apa sekalian aja tanahnya dijadwal tidur siang. Aneh-aneh
saja.”

Aku tertawa
dalam hati mengingat gerutuan Pak Lik Sardi itu. Semakin sering bergaul dengan
sawah dan petani di desa ini, aku semakin memahami mengapa Mbah Kung memilih
cara yang dianggap kuno oleh Pak Lik Sardi. Aku juga memahami mengapa Pak Lik
Sardi memakai cara yang berbeda dengan Mbah Kung.

janji sabar,
tandur ra kesusu
sawahe jembar-jembar
parine lemu-lemu…[4]
 

Masih
kudengar Simbah berdendang riang, masih dengan tembang yang sama yang pernah
kukenal saat aku masih kecil. Tembang sederhana, tentang komitmen kerja yang
baik serta doa bagi Yang Maha Widi agar memberkahi kerja petani.

Terhanyut aku
ikut berdendang dengan tembang tersebut. Ikut pula terhatur sebuah doa. Namun
doa yang berkumandang tak lagi seriang lagu itu. Karena doa-doanya ialah doa intensifikasi
tanam. Sawah hampir tak diberokan, digunakan seproduktif mungkin, penggunaan pupuk
kimia, bermacam zat perangsang serta pestisida. Sawah tak lagi luas. Penduduk
semakin banyak sementara lahan terbatas. Lahan yang terbatas itupun diwariskan
pada keturunannya, dibagi sesuai jumlah yang berhak, sehingga semakin sempit
kepemilikan lahan. Bahkan di tempat lain, sawah dijual untuk industri dan
perumahan, uangnya dibelikan sepeda motor sebagai lambang gengsi, profesi pun
beralih dari petani menjadi tukang ojek.

Hmmm,
mungkin doa yang diucapkan oleh masyarakat petani memang sudah berbeda dengan
doa yang terucap dalam lagu itu. Globalisasi dengan gaya hidup konsumtif,
pragmatis, dan hedonis telah mengubahnya.


[1] Mbah
Kung (Bahasa Jawa) adalah kependekan dari ‘Simbah Kakung’ = kakek, sementara
‘Simbah’ bisa berarti kakek atau nenek
[2] Bu Lik
(Bahasa Jawa) adalah kependekan dari ‘Ibu Cilik’, yaitu perempuan adik
ibu/bapak = tante. Sementara ‘Pak Lik’ adalah kependekan dari ‘Bapak Cilik’=Om

[3] ora
kerso (Bahasa Jawa Halus)=tidak bersedia

[4] Cuplikan
sebuah tembang dalam bahasa Jawa. Artinya: “berjanji sabar, menanam tanpa
tergesa-gesa, sawahnya luas dan padinya bernas-bernas.”

 

Leave a Reply