“Ini Nyawa Kami…”
“Janganlah dik… Ini nyawa kami dik…” Pinta seorang bapak, pejabat Ketua OMS (Organisasi
Masyarakat Setempat) pada Devis, yang datang untuk melihat dokumen Rencana Anggaran Pembangunan (RAP) saluran
dan bak air bersih yang sedang dilakukan di desanya.
Proyek PKPS BBM IP
yang masuk di desanya seharusnya membuat penduduk desa tersebut bersuka karena
air bersih akan menjadi lebih mudah diperoleh, namun proyek seharga Rp. 250
juta tersebut saat ini mandeg, ketika pembangunan belum baru berjalan seperempatnya.
Berbagai kemungkinan penyimpangan terjadi, mulai dari perpindahan sumber titik
air dari rencana awal—tanpa rembugan dan persetujuan, pengambilan bahan dari
dan dengan cara merusak bangunan lain yang sudah ada, kualitas pengerjaan yang
amburadul, hingga adanya dugaan air tak bersih yang dialirkan ke bak tersebut.
Dampak penyelewengan ini
pun tak tanggung-tanggung, bahkan menimbulkan perselisihan antar desa karena perpindahan
sumber titik air dari yang direncanakan justru membuat debit air sawah desa
tetangga.
Sementara Devis
hanyalah seorang gadis remaja yang akal dan nuraninya dipenuhi pertanyaan akan
pembangunan saluran air bersih di desanya. Pembangunan yang tak wajar
mendorongnya untuk membela hak-hak masyarakat desa yang tercerabut. Dicarinya data
mengenai pembangunan bak air tersebut, baik dengan cara mewawancarai
orang-orang yang terlibat dalam pembangunan, maupun dengan mencari data dokumen
proyek.
Tubuh Devis yang kecil
mungil dan terlihat lemah tak menyurutkan langkahnya jika harus maju berhadapan
dengan pejabat yang garang. Oleh karena itu disertai niat yang tulus dalam
mencari kebenaran, pergilah Devis pada Ketua OMS sambil berharap bisa
mendapatkan dokumen yang dikehendakinya. Namun harapannya tersebut ternyata
disambut rengekan pejabat desa tersebut yang berkepentingan dengan “nyawa”-nya.
Mengambil analogi
nyawa, nyawa adalah sesuatu yang memberi hidup dan memampukan manusia bisa
menjalani aktivitas dunia. Ketika nyawa tak ada lagi di badan, matilah manusia.
Analogi yang disampaikan pejabat desa diatas mungkin pernah kita dengar, tapi
mendengar secara langsung rengekan pejabat tersebut sungguh membuat rasa hati
menjadi prihatin. Nyawa seorang pejabat tergantung pada RAP. Sementara dokumen
ini sendiri adalah dokumen publik layak dilihat dan diketahui masyarakat
penerima manfaat sebagai bagian dari proses kontrol terhadap pembangunan di
wilayahnya.
Untuk menjaga
nyawanya, pejabat tersebut menghantar kepulangan Devis dengan amplop tebal
berisi sejumlah uang. Tak diterimanya amplop itu, dan masih pula dicarinya akal
untuk mendapatkan dokumen tersebut.
(Cerita masyarakat yang menuntut transparansi
dan akuntabilitas pembangunan desanya. Dari: Desa Talang Bunut, Kecamatan
Lebong Utara, Kabupaten Lebong, Propinsi Bengkulu)