Archive for April, 2006

Cerita tentang Mantan Pacar

Thursday, April 27th, 2006

Tanya (T) : Berapa
kali pacaran?
Jawab (J) : Mmm… keknya ada 5
deh, mulai dari cinta pertama, iseng-iseng berhadiah, hingga pacaran yang
membadai.. hahahaha            

T : Siapa nama pacarmu? Dari yang pertama hingga
yang terakhir?
J :  Kenthut, Rudy, Ook, Wawan dan Jefri

T : Berapa lama usia pacarannya?
J : Paling cepat satu semester, paling lama 2
tahun

 T : Kenapa putus?
J : Dengan yang mana nih? Beda-beda dong
kasusnya.

 T : Dengan semuanya?
J : Yang pertama, he didn’t love me, he loved my
best friend!! Huwaaaaaaaaa.. Yang kedua, he’s dead,  killing himself… glek… gila gak sih? Yang ketiga,
hiks, alasan klasik… beda agama!!! Yang keempat, dia mulai waras dan
sadar telah salah memilihku, makanya, putus deh. Wakakakakaka!!! Dengan yang terakhir, he was a crazy
and liar married man!!! Sigh!

 T : Setelah putus, siapa yang masih menjadi teman
dekat
J : Ook. Keknya hati kita masih menyatu nih.
Hihihi…

 T : Siapa yang mempunyai pengaruh paling kuat selama
pacaran?
J : Rudy membuatku mengucap “Sigh…”. Wawan
membuatku berhenti merokok. Dengan Jefri aku merokok lagi!! Hahahaha

 T : Siapa yang paling kau dambakan?
J : Wawan… huwaaaaaaaaaa I miss you!!!

 T : Siapa yang kau anggap “He is the one.”
J : Saat pacaran sih semua kuanggap gitu deh,
kecuali Jefri. Tapi semuanya berantakan juga! Sigh!

 T : Siapa yang paling membuatmu terbadai?
J : Rudy dan Wawan. Menghempasku dalam ilusi
merah yang resah, sepi dan sakit!! Ich, bodoh banget aku ini! Wake up, girl!
Sigh!

 T : Ada yang meninggalkan rasa sakit hati mendalam? Mengapa?
            J : Wawan. He was just gone… like a thief and he had stolen my heart. Sigh

 T : Pacarmu memberimu hadiah?
J : Rudy yang paling banyak memberi hadiah. Hihihi…
Kenthut dan Wawan blum pernah. Kere, pengangguran sih!

T : Ada yang memberi vibrator?
            J : Weks! Gila man!! I hope, actually.
Wakakakakakak!!!

T : Pacarmu suka melakukan kekerasan?
J : Physically enggak, tapi rasanya Rudy deh yg intimidasi psikis.

T : Pacarmu cemburuan?
J : Cemburuan sih enggak, tapi–kecuali yang pertama–rata-rata gak terlalu menyelidik dan gak suka klo aku berteman dekat dengan pria lain.

T : Pacarmu ngasih bunga?
J : Hihihi… Cuma yang pertama yang pernah gitu. Kasihan deh gue gak pernah punya pacar romantis :p

T : Pacarmu bilang kau sexy?
J : Keknya cuma Rudy, Ook dan Jefri deh. Tapi semua bilang aku smart. Wekekeke… narsis banget!!

T :  Apa panggilan sayang paling kau suka? Siapa yang memberi?
J :  Panggilan "kasih…" dari Wawan. Keknya hangat dan sangat personal, gitu. Tapi aku juga suka dipanggil "nduk", Wawan dan Ook yang manggil kek gitu.

 T : Ngapain aja kalau pacaran?
J : Nonton film, jalan di mall, ke toko buku, ke
toko kaset, diskusi, berdebat, duduk ngobrol di teras, email-emailan, saling
telpon dan sms, nonton teater, nonton bola, nonton sawah, nonton pesawat terbang, makan
bareng, pijet-pijetan, naek gunung, nyuci mobil, ke pasar, peluk-pelukan, frenchkissing,
hihihi…

 T : Siapa yang bayar makanan atau tiket nonton
klo pacaran?
J : Gantian, mana yang ngajak dan punya uang lah!

 T : Ada yang pernah ngutang dan gak bayar?
           J : Ada.
Jefri. Sigh…

 T :  Semua pacarmu menciummu di bibir?
J : Hihihi… kecuali Rudy dan Wawan

 T : Mengapa?
J :  Mereka blum pernah nyium. Dah putus sebelum sempat ketemu. Hahaha…
khayal banget gak sih?

 T : Pernah ML?
J : Gak ah! Save the best for last :D

T : Klo bisa mengulang, pilih mengulang pacaran
ma siapa?
J : Dari kelima itu? Gak deh, makasih!!! Ma si
sexy Seal atau si gaek Koizumi aja deh timbang ma mereka lagi!! Wakakakaka!!!

Doa Petani

Monday, April 24th, 2006

Petani
Kudengar Mbah Kung[1]
berdendang riang sambil bekerja di sawahnya yang tak seberapa luas. Tangan
tua yang legam terbakar matahari itu lincah mengayunkan pacul, dirapikannya
tanah yang membentang sepanjang pematang.

Mbah Kung sudah tidak muda lagi. Usia Beliau
77 tahun di bulan Agustus mendatang. Mbah
Kung
tidak tahu persis tanggal kelahirannya. Beliau hanya ingat, ketika kemerdekaan
Indonesia diproklamasikan, usia Mbah Kung saat itu baru saja menginjak
16 tahun. Mbah Buyut, orangtua Mbah Kung, sudah mulai merembug jodoh
untuk Mbah Kung. Namun Mbah Kung memilih jalannya sendiri. Ditinggalkannya
desanya di Wonogiri menuju
kota Yogyakarta agar bisa ikut serta dalam
kegembiraan kemerdekaan. Hingga akhirnya bergabunglah Mbah Kung dalam pasukan gerilya di daerah Kedu selama perang
revolusi.

Selesai
perang revolusi Mbah Kung memilih
untuk pulang ke desa. Saat itu Mbah Kung
menikah dengan Sipon–yang kemudian menjadi Mbah
Putri
saya. Praktis kehidupannya berlanjut di desa. Mbah Kung membantu Mbah Buyut
mengusahakan sawah, karena Mbah Kung-lah
anak satu-satunya.

Sementara
aku adalah cucu tertua Mbah Witoatmodjo.
Mungkin aku cucu yang paling dekat dengan Simbah.
Sejak SD hingga SMA, setiap liburan aku
selalu mengunjungi Simbah. Ketika
liburan kelas 4 SD, orangtuaku sudah melepaskan aku naik kereta api Argo Lawu sendirian
dari
Jakarta ke Solo, agar aku bisa berlibur di rumah Simbah di Wonogiri. Sampai di Stasiun Balapan
Solo, Bu Lik[2]
Yanti yang sekolah di Solo sudah menungguku disana dan akan mengantarku ke
rumah Simbah.

Sekarang
aku di tahun ketiga perkuliahanku di Fakultas Pertanian UGM. Aku ingin menjadi
petani, seperti Mbah Kung. Sebulan
sekali di akhir pekan, aku mengunjungi Mbah
Kung
, dan ikut turun ke sawah dengan Mbah
Kung
.

Pagi ini,
kesekian kalinya aku bekerja dengan Mbah
Kung
di sawah. Kusiangi rumput-rumput liar yang tumbuh di sela padi yang
subur. Kubiarkan kakiku telanjang dan penuh lumpur, tanpa sepatu bot. Tanah
sawah Mbah Kung hitam berkilat, gembur dan banyak cacingnya. Ini semua karena pupuk
kandang dari kandang sapi belakang rumah.

“Itulah Wan, Mbah Kung ora kerso[3] pake pupuk dari koperasi. Jadinya ya Pak
Lik-mu ini yang harus sedikit repot bantu ngangkat tai dari kandang. Coba kalau
mau, kan mudah, tidak perlu butuh pupuk sebanyak ini. Pupuknya pun bisa diantar
pegawai koperasi langsung ke sawah, tinggal tambah sedikit ongkos.”
Gerutu
Pak Lik Sardi sambil menurunkan pupuk kandang di gerobak dengan sekopnya.

“Lha wong sekarang ini apa-apa kan sudah maju. Pupuk
tinggal beli. Kalau belum ada uang, ngutang pun bisa. Kalau ada hama, di toko
juga banyak pilihan obatnya, tapi Simbahmu itu tetep aja pakai cara kuno
seperti ini. Ingat gak dua tahun lalu, sawah Mbah Kung ini hampir habis
diserang keong mas. Heh!”
Disekanya keringat yang mengucur deras di dahi. Mahatari sudah sangat menyengat
pada pukul 8 pagi itu. Aku tak membalas ucapan Pak Lik Sardi. Kuteruskan
pekerjaanku mengangkat pupuk ke sawah.

“Memang aneh Mbah Kung itu, Wan.
Coba kau pikir, semua tetangga tanam padi bisa 3 kali setahun, atau paling
tidak 5 kali dalam dua tahun. Lagi-lagi kemajuan jaman, tanah tidak usah
dibero-kan masih bisa memberikan hasil yang baik. Kalau Simbahmu ya tetep aja
tanam padi 2 kali setahun. Alasan Mbah Kung biar tanahnya istirahat.. Lha wong
tanah kok istirahat, apa sekalian aja tanahnya dijadwal tidur siang. Aneh-aneh
saja.”

Aku tertawa
dalam hati mengingat gerutuan Pak Lik Sardi itu. Semakin sering bergaul dengan
sawah dan petani di desa ini, aku semakin memahami mengapa Mbah Kung memilih
cara yang dianggap kuno oleh Pak Lik Sardi. Aku juga memahami mengapa Pak Lik
Sardi memakai cara yang berbeda dengan Mbah Kung.

janji sabar,
tandur ra kesusu
sawahe jembar-jembar
parine lemu-lemu…[4]
 

Masih
kudengar Simbah berdendang riang, masih dengan tembang yang sama yang pernah
kukenal saat aku masih kecil. Tembang sederhana, tentang komitmen kerja yang
baik serta doa bagi Yang Maha Widi agar memberkahi kerja petani.

Terhanyut aku
ikut berdendang dengan tembang tersebut. Ikut pula terhatur sebuah doa. Namun
doa yang berkumandang tak lagi seriang lagu itu. Karena doa-doanya ialah doa intensifikasi
tanam. Sawah hampir tak diberokan, digunakan seproduktif mungkin, penggunaan pupuk
kimia, bermacam zat perangsang serta pestisida. Sawah tak lagi luas. Penduduk
semakin banyak sementara lahan terbatas. Lahan yang terbatas itupun diwariskan
pada keturunannya, dibagi sesuai jumlah yang berhak, sehingga semakin sempit
kepemilikan lahan. Bahkan di tempat lain, sawah dijual untuk industri dan
perumahan, uangnya dibelikan sepeda motor sebagai lambang gengsi, profesi pun
beralih dari petani menjadi tukang ojek.

Hmmm,
mungkin doa yang diucapkan oleh masyarakat petani memang sudah berbeda dengan
doa yang terucap dalam lagu itu. Globalisasi dengan gaya hidup konsumtif,
pragmatis, dan hedonis telah mengubahnya.


[1] Mbah
Kung (Bahasa Jawa) adalah kependekan dari ‘Simbah Kakung’ = kakek, sementara
‘Simbah’ bisa berarti kakek atau nenek
[2] Bu Lik
(Bahasa Jawa) adalah kependekan dari ‘Ibu Cilik’, yaitu perempuan adik
ibu/bapak = tante. Sementara ‘Pak Lik’ adalah kependekan dari ‘Bapak Cilik’=Om

[3] ora
kerso (Bahasa Jawa Halus)=tidak bersedia

[4] Cuplikan
sebuah tembang dalam bahasa Jawa. Artinya: “berjanji sabar, menanam tanpa
tergesa-gesa, sawahnya luas dan padinya bernas-bernas.”

 

“Ini Nyawa Kami…”

Monday, April 17th, 2006

 “Janganlah dik… Ini nyawa kami dik…” Pinta seorang bapak, pejabat Ketua OMS (Organisasi
Masyarakat Setempat) pada Devis, yang datang untuk melihat  dokumen Rencana Anggaran Pembangunan (RAP) saluran
dan bak air bersih yang sedang dilakukan di desanya.

Proyek PKPS BBM IP
yang masuk di desanya seharusnya membuat penduduk desa tersebut bersuka karena
air bersih akan menjadi lebih mudah diperoleh, namun proyek seharga Rp. 250
juta tersebut saat ini mandeg, ketika pembangunan belum baru berjalan seperempatnya.
Berbagai kemungkinan penyimpangan terjadi, mulai dari perpindahan sumber titik
air dari rencana awal—tanpa rembugan dan persetujuan, pengambilan bahan dari
dan dengan cara merusak bangunan lain yang sudah ada, kualitas pengerjaan yang
amburadul, hingga adanya dugaan air tak bersih yang dialirkan ke bak tersebut.

Dampak penyelewengan ini
pun tak tanggung-tanggung, bahkan menimbulkan perselisihan antar desa karena perpindahan
sumber titik air dari yang direncanakan justru membuat debit air sawah desa
tetangga.

Sementara Devis
hanyalah seorang gadis remaja yang akal dan nuraninya dipenuhi pertanyaan akan
pembangunan saluran air bersih di desanya. Pembangunan yang tak wajar
mendorongnya untuk membela hak-hak masyarakat desa yang tercerabut. Dicarinya data
mengenai pembangunan bak air tersebut, baik dengan cara mewawancarai
orang-orang yang terlibat dalam pembangunan, maupun dengan mencari data dokumen
proyek.  

Tubuh Devis yang kecil
mungil dan terlihat lemah tak menyurutkan langkahnya jika harus maju berhadapan
dengan pejabat yang garang. Oleh karena itu disertai niat yang tulus dalam
mencari kebenaran, pergilah Devis pada Ketua OMS sambil berharap bisa
mendapatkan dokumen yang dikehendakinya. Namun harapannya tersebut ternyata
disambut rengekan pejabat desa tersebut yang berkepentingan dengan “nyawa”-nya.

Mengambil analogi
nyawa, nyawa adalah sesuatu yang memberi hidup dan memampukan manusia bisa
menjalani aktivitas dunia. Ketika nyawa tak ada lagi di badan, matilah manusia.
Analogi yang disampaikan pejabat desa diatas mungkin pernah kita dengar, tapi
mendengar secara langsung rengekan pejabat tersebut sungguh membuat rasa hati
menjadi prihatin. Nyawa seorang pejabat tergantung pada RAP. Sementara dokumen
ini sendiri adalah dokumen publik layak dilihat dan diketahui masyarakat
penerima manfaat sebagai bagian dari proses kontrol terhadap pembangunan di
wilayahnya. 

Untuk menjaga
nyawanya, pejabat tersebut menghantar kepulangan Devis dengan amplop tebal
berisi sejumlah uang. Tak diterimanya amplop itu, dan masih pula dicarinya akal
untuk mendapatkan dokumen tersebut.

(Cerita masyarakat yang menuntut transparansi
dan akuntabilitas pembangunan desanya. Dari: Desa Talang Bunut, Kecamatan
Lebong Utara, Kabupaten Lebong, Propinsi Bengkulu)