Archive for March, 2006

Last Tango in Paris

Friday, March 31st, 2006

Last_tango_in_paris

irected by Bernardo Bertolucci
Produced by Alberto Grimaldi
Written by Bernardo Bertolucci (story and screenplay)
Franco Arcalli (screenplay)
Agnès Varda (additional dialogue)
Starring Marlon Brando
Maria Schneider
Music by Gato Barbieri
Released October 14, 1972 U.S. released

This is a movie I long to write, except "Cinema Paradiso". The extreme frankness of sexual activities (even rape scene) in that movie made me agaping. WOW!

It’s "merely" a porno film refined (coincidentally) by Bertolucci with big actor, Marlon Brando. Paul, a depressed widower because of his wife’s suicidal death met a young acctress, Jeanne, in a vacant apartment. In their own no-identity world, denied emotional connection, they drawn into sexual relationship. The first sexual relationship happened instantly in a minute; without agreement, without foreplay, and it was just happened!! Then the other scene describe butter "raped" sodomy, masturbation, and others. I believe every audience will shout "WOW!!"

Refered to Wikipedia, this film caused a deep scandal in Italy for the sodomy scene. the film was sequestered by censorship and officially all the copies were destroyed. An Italian court revoked Bertolucci’s civil rights for five years plus it gave him a four-month suspended prison sentence. Poor Bertolucci.

But afterall, it is a must wacthing movie. The monologue acting of Marlon Brando at the side of his wife’s covin was complimented everywhere and he was nominated for Academy Award. Many times the camera just shot the  silhoutte of the scene on the wall, including the scene of Jeanne’s masturbation. Bertolucci was really insane. Great!

Many things could be discussed from the film. The sodomy-rape… how Jeanny could be forgivefull — it seemed she memorized its sensation — although she cried its pain.  What was her motivation jumped into this clandestine sexual relationship. Also, I determined that Jeanny presented naked many times in that movie while Paul did not.

 

Maybe Jeanne was a representative of women’s frankness in sexual need and relationship. In the year of 1973, I can understand why this film was completely critized.

Asam Padeh dengan Tempoyak

Saturday, March 11th, 2006

Asam padeh… asam pedas… Saya tak tahu ini sebenarnya masakan Padang atau
masakan Bengkulu. Karena beberapa kali saya ke Bengkulu, cita rasa masakan
disana tak jauh beda dengan masakan Padang. Namun saya ketemu asam padeh ini
di Bengkulu. Kunjungan saya yang terakhir seminggu lalu mengembalikan
kenangan tentang ikan masak asam padeh dengan campuran tempoyak, yang pertama
kali saya temui 4 tahun lalu.

Waktu itu hampir sebulan saya di
Bengkulu dan tiap hari harus berhadapan dengan sayur gulai bersantan kental.
Baik itu dalam perjalanan dari  kota Bengkulu, di Bengkulu Selatan, ataupun
di Bengkulu Utara. Entah itu gulai ikan, gulai daun pakis, ataupun gulai
jengkol yang terpaksa saya temui setiap hari di pedalaman Ketahun. Ketika
perjalanan menuju daerah Bengkulu Utara (sekarang Muko-Muko, kabupaten yang
dimekarkan), lidah dan perut mendapat hiburan yang menyenangkan. Di sebuah
desa kecil, Air Buluh, di pinggir pantai laut Indonesia, dengan mata
pencaharian penduduknya kebanyakan dari hasil laut serta sedikit hasil kebun
(karet, sawit dan durian pada musimnya), seorang teman–penduduk asli,
memasakkan asam padeh yang segar, sedep dan eksotik!

Asam padeh yang
pertama adalah asam padeh kepala ikan Manyung. Ikan yang di beberapa tempat
tidak menjadi ikan favorite, tapi di beberapa tempat yang lain sangat
diminati. Kuah tanpa santan, berasa asam-pedas-segar meresap kedalam kepala
ikan Manyung yang besar dan berdaging. Hmmm… Bumbu asam padeh sendiri
adalah bawang merah, bawang putih, cabe merah keriting, lengkuas, jahe,
kunyit, asam kandis, salam dan serai. Namun yang membuat eksotik adalah rasa
tempoyak yang dimasukkan dalam kuah tersebut, semakin menambah rasa asam,
namun harum yang…. eksotik! Hahaha… saya tak tahu bagaimana menceritakan
rasa dan aroma tempoyak.

Tempoyak sendiri sebenarnya "hanya" durian yang
diambil dagingnya dan disimpan dalam wadah tertutup supaya tetap bersih dan
tidak berulat. Tempoyak berasa asam karena proses fermentasi alami yg
terjadi, dengan aroma durian asam yg luar biasa tajam. Tempoyak ini
seringkali dibikin sambal dengan bermacam-macam rempah, kelapa halus dan
santan, serta dicampur ikan yang tidak terlalu besar (misal ikan selengek
yang penuh duri… sigh) dan pete. Sambal ini harus luar biasa pedas karena
jika tidak demikian hanya akan terasa asam dan kurang membangkitkan gairah
makan. Tapi tempoyak bisa juga dicampurkan dalam masakan yang lain, misal
gulai–masakan utama di Bengkulu selain sambal (Sigh…). Terlepas dari
aromanya yang luar biasa, tempoyak memang sangat eksotis!! Paling cocok
dicampur dalam masakan berbahan ikan. Mungkin bisa untuk mengeliminir bau
ikan yang kadang amis (digantikan aroma tempoyak yang aduhaiii…
hihihi)

Kembali ke asam padeh, beberapa hari kemudian adalah asam padeh
kedua yang kunikmati memakai jenis ikan yang berbeda. Saya lupa nama ikan
yang kedua, namun yang paling saya ingat ikan tersebut diasap terlebih dahulu
sebelum dimasak. Dasar ikan yang bener-bener fresh from the ocean, lalu
diasap sebentar di belakang rumah dengan arang bathok kelapa, rasanya
sungguh membangkitkan air liur. Ikan asap berasa agak sangit, tapi
gurih-manis dengan bumbu yang meresap kedalam serta kuah yang
asam-pedas-segar. Lengkap sudah makan siang waktu itu, ngabis-abisin nasi di
wakul. WOW!!!

Di Bengkulu seminggu lalu, sebelum balik ke Solo, saya
mampir ke Pasar Minggu, pasar induk di kota Bengkulu. Kubeli 1/2 kg tempoyak
dari ibu penjual disitu. Harganya Rp 10.000,- Harus jeli memilih tempoyak
yang baik. Diamati dulu, diaduk, dan melihat lingkungan sekitar penjual. Oh,
masih ada butir-butir biji durian tersebar disamping penjual… tandanya si
penjual "membuat" tempoyak on site, bukan tempoyak yang dibikin di rumah,
yang mungkin sudah dicampur tepung. Di baskom pun tempoyak terlihat
memiliki warna daging yg merata, putih kekuningan, serta kelembekan yang
merata pula. Tandanya si durian yang mempunyai kematangan yang merata pula
dan dari jenis durian yg sama, bukan durian matang dicampur durian mengkal
dengan jenis yang beragam. Lalu 1/2 kilogram tempoyak dibungkus plastik, dan
jangan lupa masukkan tupper ware, tutup rapat, agar aromanya yang tajam tidak
terlalu mengganggu teman perjalanan di pesawat.

Di rumah, kumasak
walau hanya dengan ikan tongkol, kubawa sebagian ke kantor, dan yang kebagian bersuka.

mumpung UU anti pornografy&aksi belum diberlakukan

Friday, March 10th, 2006

Mumpung masih bisa menampilkan karyaku dengan model diriku sendiri.
Dibuat diatas kanvas, dengan konte.
Bergaya di depan kaca rias dalam kamar.
Kira-kira 5 tahun lalu, tanpa tanda tangan dan tanggal pembuatan.
Memang baru sketsa. 
JadilahKufoto 6 hari lalu.
Kutampilkan.
Memakai waktu yang masih tersisa,
sebelum uu anti pornografy&aksi disyahkan dan diberlakukan.

Are you arroused?

Mungkin negara ini memang tidak untuk perempuan. Karena perempuan hanya sumber erotisme yang menyulut birahi dan perzinahan. Usir saja semua perempuan, tendang, bunuh, kubur dan benamkan.

nulis bisa bikin orgasme?

Friday, March 10th, 2006

(3/11/2006 12:02:58 AM): diem ?
(3/11/2006 12:03:12 AM): mo bikin blog
(3/11/2006 12:03:15 AM): kangen nulis
(3/11/2006 12:03:26 AM): okie
(3/11/2006 12:06:40 AM): aneh, blog-nya friendster gak bisa dibuka
(3/11/2006 12:06:49 AM): :D
(3/11/2006 12:09:39 AM): payah ni, aku pun lupa passwordku di blogspot
(3/11/2006 12:09:47 AM): mantab
(3/11/2006 12:10:07 AM): hayah
(3/11/2006 12:10:12 AM): nulis, simpen di hardisk ae
(3/11/2006 12:10:13 AM): :p
(3/11/2006 12:10:18 AM): hehehe
(3/11/2006 12:10:28 AM): kamu nulis seolah2 bisa orgasme karena nulis yah..
(3/11/2006 12:10:54 AM): weks
(3/11/2006 12:11:05 AM): ya gak bisa lah, seolah-olah pun gak bisa

Untung nulis gak bisa bikin orgasme, seolah-olah orgasme ataupun "orgasme" dalam banyak makna implisitnya. Entah jika orang lain bisa. Untukku tidak. Aku hanya ingin (kembali) nulis. Tak peduli apakah tulisanku bermutu atau tidak. Tak peduli apakah enak dibaca, logis, inspired, or touched… saat ini aku hanya ingin (kembali) menulis.

hanyarinduyangkurasatakpulajelaswujudnyapadaapadansiapamungkinpadawaktulaluketikapekarasakelua kataketikarasakatakeluarmaknaketikakatamaknakeluarrasatakselalupadaapadansiapa

Namun jika nulis bisa bikin orgasme, aku tak kan butuh sexual activity and its components.