Moving

September 23rd, 2006 by haleygr

Lama gak nulis disini. Aku punya ruang baru di multiply, dan kurasa lebih menyenangkan :)
Please take a look at this and join multiply.
http://haleygiri.multiply.com

Siapa Bilang Bikin Pizza Susah?

August 1st, 2006 by haleygr

Meski belum pernah terucap, dulunya aku berpikir bikin pizza itu susah, rumit, dan repot. Aku suka heran banget klo lihat orang mau repot-repot bikin pizza, wong beli jadi aja ada, gak usah repot tinggal makan anget-anget. Tapi… ternyata bikin pizza tu guampangggggg!!! Bahkan menantang! Karena kita bisa berkreasi untuk membuat topping yang lezat dan beda. Bahkan, memanfaatkan makanan sisa pun bisa klo kita cukup kreatif.

Sekarang aku mau share cara membuat pizza. Yang jelas, untuk membuat pizza, bahan yang musti ada ialah:
1. Dough
Dough ini dibuat dari adonan terigu dengan yeast, susu bubuk (optional), sedikit garam, sedikit gula/madu (optional), minyak zaitun dan air. Klo gak ada minyak zaitun bolehlah diganti minyak sayur. Karena minyak zaitun emang muahal harganya, kecuali minyak zaitun produksi Mustika Ratu yang biasa buat pijit itu. Hihihihi… Ini nih resep aku:
Campur 500 gr terigu protein tinggi (misalnya tepung terigu cakra, pokoke yang untuk bikin roti lah) dengan 1 sdm yeast (setara dengan 1/2 bungkus fermipan instant), 1 sdt garam dan 2 sdm madu. Ada yang menambahkannya dengan susu bubuk, tapi aku enggak pakai. Lalu uleni dengan tangan sambil dituang air sedikit demi sedikit, kira-kira menghabiskan 300 ml air. Setelah tidak lengket di tangan, tuang dengan 3 sdm olive oil. Uleni lagi sambil sesekali dibanting hingga kalis. Menguleni dough tidak perlu terlalu lama, karena beda dengan roti manis, cukup sekitar 10-15 menit saja, asal sudah kalis saja. Beda dengan membuat roti manis yang diuleni sampai bener-bener elastis.

Setelah itu istirahatkan dough ini -/+ 60 menit. Olesi pizza dan wadahnya dengan minyak zaitun supaya adonan tetep lemes, tidak kaku dan pecah. Tutup dengan serbet bersih. Sementara mengistirahatkan dough, kau bisa mulai menyiapkan topping. Setelah 60 menit, volume dough menjadi 2 kali volumen semula. Kempiskan dengan cara meninju adonan, lalu potong-potong dan bagi menjadi beberapa bagian sesuai selera, tipiskan dengan roll, lalu dilebarkan dengan bantuan tangan, taruh di loyang, istirahatkan sekitar 10 menit, lalu panggang sebentar di oven (5-10 menit).

Klo aku, aku suka dengan dough yang tipis, gak kayak pizza hut yang tebel itu. Untuk satu adonan itu, aku bagi menjadi 6 bagian, lalu ditipiskan, jadi 6 dough tipis diameter 22-24 cm. Untuk loyangnya, sebenarnya pakai loyang yang bundar, tapi karena aku gak punya, ya santai aja, pakai aja loyang kue kering. Sama aja toh? Paling bentuknya gak bisa bener-bener bunder, kayak kurva gak beraturan lah! Tapi gak masalah tuh, wong di Itali sono pizza pun gak selalu bunder. Kekekeke…

2. Concase (atau resep dasar saos tomat)
Sebenarnya gak mutlak harus dengan concase, aku pernah lihat pizza yang diolesi pesto (campuran olive oil, daun basil, garlic, garam, dan kacang… apa ya… yang warnanya ijo, bentuknya panjang, kulitnya putih agak keras, sering dijual di supermarket, dan tidak tumbuh di Indonesia… lupa ah! Pokoke itu semua dihaluskan, bentuknya jadi kek sambel ijo, tapi gak pedes lho). Waktu itu ngliatnya di O Solo Mio, pizza rendang yang mereka sajikan pakai pesto, dan rasanya sungguh lebih sedep ketimbang pake concase. Ada pula pizza yang diberi saus barbeque dan saos oriental. Mungkin bisa pula berkreasi pizza dengan sambel pecel. Wakakakakak!!!

Nah, back to concase, jangan pake saos tomat botolan, karena rasanya gak nyeni. Coba bikin sendiri. Untuk satu resep dough diatas, butuh 7-8 butir tomat yang segar, ranum dan besar. Rebus tomat, setelah cukup lemes, kupas kulit arinya, lalu blender. Setelah itu panaskan margarin, tumis 2 butir bawang putih cincang dan 1/2 buah bawang bombai iris (atau 1 buah klo bawang bombainya kecil), masukkan tomat blender, tambahkan 2 sdm pure tomat (klo gak ada ya lewatin aja), 1-2 sdt garam, 1 sdt gula, dan Italian herbs macem oregano, basil, rosemary, thimes, dll. Italian herbs ini yang bikin sedep. Paling mudah pakai yang kering, karena selalu ada di SPM. Pilih aja mix herbs. Klo merencanakan pakai topping daging giling, mending daging gilingnya sekalian dimasukin di concase ini, biar berasa enak. Nah masak concase hingga meletup-letup, lalu angkat.

3. Topping
Nah, ini sih terserah mau dikasih topping apa. Mau daging giling, sosis, smoked beef/ham, telur asin, udang, cumi, fillet kakap, tofu, tempe penyet, ayam suwir, ikan asin (anchovy), abon, sisa sambel goreng tolo, tomat, paprika, terong, bawang bombai, kecombrang iris, nanas, urap, dll. Pokoke pakailah imaginasi anda untuk membuat pizza menjadi semakin sedap.

Beberapa minggu lalu, ketika di rumah banyak sisa makanan sehabis pesta emas ortu, aku membuat pizza dengan topping sambel goreng kreni (itu lho daging yang dibikin buletan kecil-kecil, sama buah pohon beringin lebih besar dikit) dan suwiran beef teriyaki. Lalu aku tambahin bawang bombai dan irisan daun kemangi. Wuah, sedep rasane! Apalagi wangi daun kemanginya itu bikin pizza makin mantap (Toh mirip dengan wangi daun basil!).
Pokoke selamat berkreasi!

4. Keju
KEju yang biasanya dipakai adalah keju  mozarella, karena keju ini meleleh ketika dipanaskan, lalu "mengikat" topping hingga tak lari kesana-kemari ketika digigit. Pengalamanku sih, aku pakai australian mozarella yang generik itu. Menurutku rasanya gak terlalu mantap, padahal harganya lumayan juga, hampir Rp.100.000 per kilo. Untuk satu resep diatas, minimal butuh 150 gr mozarella. Di SPM sini ada mozarella mereknya Florida, keknya sih enak, tapi harganya duileeee… dua kali lipat lebih!!! Gak kebeli deh!

Sebenarnya ada keju-keju jenis lain yang juga meleleh ketika dipanaskan. Mbak Esther yang tinggal di Abu Dhabi bilang, keju cheddar pun ada yang meleleh ketika dipanaskan. Tapi susah dicari, apalagi di Solo yang ndeso ini, klopun ada mungkin harganya mahal.

Nah, selain mozarella, taburi pizza dengan parmesan. Parmesan membuat pizza berbau harum, wangi dan rasanya pun gurih. Tapi duh, ini juga harganya muahal. Aku menggantikannya dengan cheddar parut.

Penyelesaian
Nah, setelah dough dioven sebentar, olesi dough dengan olive oil, ratakan concase diatasnya, taruh topping secara merata, taburi dengan mozarella parut (diparut kasar aja, pake parutan rujak) diatasnya, lalu panggang deh! Lima belas menit kemudian, siap menikmati pizza hangat! Wuaaaahh… pizza memang jauh lebih lezat klo disantap hangat!!!

Nah, masih menganggap bikin pizza sulit? Ahhhh… coba dulu dan rasakan nikmatnya!!! Pizza hut kalah!!!

Itik Sarati Panggang

June 9th, 2006 by haleygr

Pernahkah terbayang, makan Itik Sarati panggang di sebuah desa yang dikelilingi sungai, setelah sebelumnya ikut mengejar-ngejar itik tersebut. Hahaha… Inilah sepenggal catatan perjalanan.

Setelah mengikuti evaluation meeting di Martapura, kami bersebelas orang dari berbagai tempat memakai waktu luang untuk mengunjungi seorang teman di Desa Handil Baru, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar. Untuk sampai ke desa tersebut, tidak ada jalan darat yang bisa dilalui. Jalan darat dari Martapura hanya berujung di Basirih, sebuah wilayah dekat muara sungai yang berujung di Sungai Barito. Kemudian perjalanan disambung dengan klotok (perahu bermesin tempel) selama 15 menit. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan rumah-rumah pinggir sungai, pohon nipah dan hamparan padi siam unus yang tinggi rumpunnya bisa mencapai 1,5 meter. Bersyukur kami sampai di Basirih sekitar jam 5 sore sehingga air masih cukup banyak, kalau terlambat, bisa batal perjalanan kami karena sungai mulai surut dan tak bisa dilewati klotok.

Hingga akhirnya sampai di sebuah desa yang dikelilingi sungai. Semua rumah di desa tersebut berbentuk panggung dengan bahan kayu ulin dan beratap seng dan anyaman daun nipah. Kayu ulin disana juga dikenal dengan nama kayu besi, sangat kuat, kokoh dan tahan terhadap air. Konon semakin lama terendam air, maka si kayu semakin kuat pula. Di desa ini rumah satu ke rumah yang lain benar-benar dihubungkan dengan sungai yang harus dilewati dengan klotok atau jembatan kayu ulin yang kecil, panjang, tanpa pagar pembatas dan bergoyang-goyang ringan ketika dilewati. Seorang teman yang takut dengan goyangannya terpaksa harus merangkak agar bisa mencapai ujung jembatan. Sungguh menggelikan. Inilah Venesia van Banjar…

Pak Syamsuri dan keluarga, tuan rumah dengan senang hati menerima kedatangan kami. Sejenak kami beristirahat, lesehan saja sambil berselonjor di teras kayu ulin, tanpa alas tikar, benar-benar menikmati ademnya kayu ulin diselingi hembusan angin sejuk, ngobrol dengan tuan rumah serta takjub dengan desa yang dikelilingi sungai berair coklat. Beberapa teman mencoba menyusuri sungai dengan jukung (perahu dayung). Tiba-tiba Pak Gani, seorang teman lain yang juga penduduk desa tersebut datang membawa dua ekor itik Sarati. Itik Sarati ini adalah itik peranakan antara Mentok yang bertubuh gemuk berleher agak pendek dengan itik Alabio yang berleher panjang dan elegan. Sebenarnya penduduk setempat menamainya Itik Bekisar, tapi nama Sarati lebih dikenal di daerah lain. Warna bulunya coklat diseling warna hitam kehijauan. Moncongnya (cucuk) mirip dengan Mentok. Tubuhnya gemuk dan gempal.

Walaupun Sarati sudah ditangan, ternyata kami masih harus berlarian mengejarnya. Ketika prosesi penyembelihan, Pak Gani memegang Sarati dan Pak Syamsuri menghunuskan pisau ke leher makluk menggemaskan ini dengan posisi menghadap kiblat dan mengucap Bismillah. Dibiarkan darah yang keluar dari leher menetes di tanah, lalu dilepas ke sebuah tempat berpagar bambu, yang menyerupai kandang supaya mati di tempat tersebut. Tetapi ternyata itik ini masih bandel, walaupun urat leher sudah putus, itik ini menyelusup melewati pagar bambu lalu terjun ke sungai dan kembali berenang dengan riang. Itik kedua pun melakukan hal yang sama. Sehingga akhirnya beberapa dari kami, dan juga anak-anak Pak Syamsuri terjun ke sungai mengejar-ngejar itik yang terlihat lucu berenang dengan urat leher yang putus.

Tak berapa lama tertangkap pula si itik. Di dapur kami pun sibuk memasak air untuk mencabut bulu-bulunya, memasak nasi dan menyiapkan bumbu panggangan.  Bumbunya sederhana, hanya bawang merah dan bawang putih yang dihaluskan dengan disertai garam. Terlebih dahulu si itik di ungkep dengan bumbu tersebut, supaya tidak terlalu lama memanggangnya. Baru kemudian dipanggang diatas bara kayu dengan sesekali dibolak-balik dan diolesi kecap manis yang dicampur dengan minyak goreng. Itik ini dipanggang dalam ukuran cukup besar, tapi setelah matang, dipotong-potong. Bu Syamsuri sebagai Nyonya rumah cekatan memotong itik panggang lalu menatanya secara adil di sebuah piring lauk yang berukuran kecil, dan menyiramkan bumbu cocolan. Bumbu cocolan itik ini terdiri dari bawang merah dan bawang putih yang dipotong kasar lalu ditumis hingga layu lalu dihaluskan dengan garam, cabe kering yang direndam air lalu dicacah hingga halus, kemudian semuanya dicampur dengan ditambah kecap manis, sedikit air matang, dan sambal botol.

Setelah semuanya siap, tikar dihamparkan di lantai rumah kayu ulin tersebut. Makanan ditata secara personal. Sepiring nasi didekatkan dengan satu piring kecil berisi itik panggang, air putih, dan mangkok berisi air untuk cuci tangan. Selain itu ada beberapa piring cabe rawit kering yang berasa asin, beberapa piring isi terong bakar, dan beberapa bakul nasi untuk mereka ingin nambah dan kain lap bersih untuk tangan. Semuanya ditata berbaris melingkar sejumlah kami semua seisi rumah. Setelah doa bersama yang dipimpin Pak Syamsuri, acara melahap pun dimulai. Saya melihat semuanya begitu lahap menikmati nasi itik panggang, bahkan menambah nasi lagi. Entah karena lapar sekali setelah atau memang itik panggang ini berasa istimewa. Namun itik Sarati panggang ini memang berasa lain. Dagingnya tebal, masih berasa segar setengah matang, berasa manis, guirih, dan tidak alot. Selesai makan Pak Gani bilang, "Kalau menurut kami, itik ini baunya harum dibanding itik biasa." Mmm… saya mencoba merekonstruksi pengalaman saya, memang tak saya jumpai bau harum bunga, tapi itik ini memang tidak berasa amis sama sekali walaupun dimasak dengan bumbu sederhana. Bagian kulitnya pun tidak berlemak.

Selesai makan, beberapa teman yang tidak ikut terjun ke dapur memuji rasanya serta bertanya tentang cara masak dan bumbunya. Semuanya memuji menu makan malam hari ini. Hari sudah malam, kami kembali duduk-duduk di teras depan, berbincang tentang desa dan kota. Air di depan kami surut sama sekali, terlihat kilau warna lumpur basah tertimpa cahaya bulan.

Dini hari, air masih surut, sehingga kami baru bisa keluar desa jam 06.30. Sudah terlalu siang untuk melihat Pasar Terapung di Sungai Barito, namun tak membuat kami mengurungkan niat. Memang benar, setelah 40 menit perjalanan sampai di Pasar Terapung, suasana sudah sepi, hanya ada beberapa pedagang saja. Kami menghentikan klotok sejenak untuk minum teh dan makan wadai (kue-kue) di atas Sungai Barito, lalu melanjutkan perjalanan ke Pulau Kembang, melihat kera-kera yang konon nenek moyang kita.

Friend(s) Will Be Friend(s) Part II

May 15th, 2006 by haleygr

"Friends come and go, just a couple or two stay remain."
Satu kondisi yang paling mendukung status bujangku adalah bahwa, aku merasa punya banyak teman. (Ah, mungkin tidak terlalu banyak, toh friends list di friendsterku pun cuma 70 orang). Aku bisa memilih dengan siapa aku bisa membagi tawa, bernyanyi dan melucu sampai gila, dengan siapa aku bagikan sakit dan benci, dengan siapa aku mendiskusikan pekerjaan, dengan siapa berbicara tentang lelaki, tentang bisnis, tentang seks, tentang Tuhan…

Namun kadang teman terasa jauh. Sepi dan kesendirian pun kembali mencekam. Aku selalu merasa takut kehilangan teman. Aku selalu merasa pedih ketika kehilangan teman. Minggu kemarin aku merasakan itu. "Seorang teman" hilang. Namun akhir minggu kemarin ada teman yang muncul secara bersamaan, mengingatkanku bahwa aku punya banyak teman, dan terlebih lagi mereka mengingatku dan menyayangiku.

Titik, teman semasa kuliah tiba-tiba datang dan menginap 2 hari di rumah. Kami jalan-jalan belanja baju, ke Pasar Gede, wedangan, makan mie toprak Yu Nani, ke Shi Jack, dan ngendon di kamar menghabiskan film tontonan. Kami saling bercerita dan dia banyak mendorongku,
"Soale kamu ini terlalu banyak minatnya sih. Semua bisa kau lakukan, tapi hanya permukaannya saja. Kudune kowe kie fokus…"
"Ayo, pokoke kowe saiki bertindak cari sekolah, apply Stuned, gak hanya mengangankan. Nanti aku akan bantu. Kuawasi terus kau. Nanti bulan Juli aku kesini lagi, ngecek usahamu sudah sampai seberapa…"
Hahahaha… Aku ngakak dan bersyukur.

Dyah,
seorang teman yang dulu pernah satu kos di masa kuliah kirim sms mengabarkan ibunya.
Agus
, malam-malam telphone; bercerita dan bertanya. Minta doa restu untuk interview di Oxfam Makassar.
Sugeng, terpaksa membatalkan janji karena simbahnya sakit.
Fera
, kirim sms, "Halo ses Hale, akhir minggu ini kita melepas rindu
bersama ya…" Oh, thanks God!!! She will come, I miss her so much!
Khoir
, seorang teman dari masa lalu, ketemu di mIRC, dan dia langsung mengenaliku hanya setelah kata pertamaku, "Khoir?" Uh, dah menikah dengan Jeanny dan dikaruniai Keyla.
Dan masih beberapa teman lama yang menyapa lewat sms di saat yang sama.

Semuanya jarang kujumpai. Tak mesti sebulan sekali, tiga bulan sekali, bahkan setahun sekali. Namun kehadiran mereka pada saat sepi dan kesendirian kembali mencekam mengingatkanku akan arti pertemanan. Tak satu pun dari mereka yang tahu apa yang sedang kurasakan, tapi mereka datang dan menghadirkan kelegaan.

Kutulis ini untuk mensyukuri pertemanan yang telah terjalin dan telah ada dalam hidupku sampai saat ini.

Friend(s) will be friend(s) part I

May 15th, 2006 by haleygr

"Friends coMe_and_herme and go, a couple or two stay remain…"

Kenanglah, sejak SD hingga sekarang, siapa yang pernah menjadi teman dekatmu, yang pernah menjadi teman paling intim dalam setiap tahap kehidupanmu? Mungkin kau bisa menghitung hingga seluruh jarimu tak cukup untuk menghitung. Tapi sekarang, siapa diantara mereka yang masih tertinggal? Mungkin jari di satu tanganmu masih tersisa untuk menghitung. Demikian juga aku.

Bertha adalah salah satu teman dekat yang "masih tertinggal" sejak SD. Perbedaan antara kami bagai bumi dan langit. Saat SMP, dia aktivis dan leader di sekolah, aku suka ngobrak-abrik perpustakaan agar bisa melahap Putu Wijaya dan Gerson Poyk. Ketika SMA, dia suka pesta dan dipuja, aku lebih suka nongkrong di "smile camp", wedangan, dan nulis untuk bulletin gereja. Berlanjut di dunia mahasiswa, kami tidak satu kampus. Kamar kosnya dikelilingi boneka, gayanya chic abis, kegiatan berkuda, paduan suara, dan dikelilingi pria yang memujanya. Aku sekedar aktivis jalanan yang juga mondar-mandir dari gunung ke gunung, berpenampilan seperti gembel –sandal jepit, jeans dan t-shirt, dan dikelilingi pria yang menganggapku "sama" dengan mereka.

Diantara kesibukan kuliah, aku di Salatiga, dia di Yogya, sesekali kami bertemu namun pembicaraan tak pernah nyambung, karena aku bicara orang-orang yang terpinggirkan, dan dia bicara mimpi-mimpi kapitalistiknya. Bicara tentang buku, film, musik, makanan, apalagi lelaki… Selera kita tak pernah sama… Pernah suatu ketika aku sangat muak dengannya dan tak pernah ingin bercakap satu kata pun.

Sekarang Bertha adalah seorang istri dan ibu seorang gadis kecil. Aku terpaksa masih memperpanjang keanggotaan di Klub Jojoba. Hahaha…  Bertha, dosen yang selalu mengeluh dengan keadaan kampusnya. Aku kerja menemani petani dalam kesederhanaannya. Aku suka cooking and baking, sementara apresiasinya terhadap makanan… payah!

And times go by… dan persahabatan tak melulu karena adanya persamaan. Bagiku dialah orang paling dekat dan paling lama mendiami persahabatan ini. Baginya, aku pun satu-satunya orang yang masih setia dengan persahabatan ini. Saling mengagumi satu sama lain, saling mencerca satu sama lain, saling membagi kegelisahan dan sukacita… Kadang kami masih bertanya, "Kok kita bisa ya berteman begini lama, padahal kita sangat jauh berbeda."

Kutulis ini untuk mengingat dan berterimakasih atas persahabatan yang indah antara kami. "Thanks for being my friend, and I love you."

Cerita tentang Mantan Pacar

April 27th, 2006 by haleygr

Tanya (T) : Berapa
kali pacaran?
Jawab (J) : Mmm… keknya ada 5
deh, mulai dari cinta pertama, iseng-iseng berhadiah, hingga pacaran yang
membadai.. hahahaha            

T : Siapa nama pacarmu? Dari yang pertama hingga
yang terakhir?
J :  Kenthut, Rudy, Ook, Wawan dan Jefri

T : Berapa lama usia pacarannya?
J : Paling cepat satu semester, paling lama 2
tahun

 T : Kenapa putus?
J : Dengan yang mana nih? Beda-beda dong
kasusnya.

 T : Dengan semuanya?
J : Yang pertama, he didn’t love me, he loved my
best friend!! Huwaaaaaaaaa.. Yang kedua, he’s dead,  killing himself… glek… gila gak sih? Yang ketiga,
hiks, alasan klasik… beda agama!!! Yang keempat, dia mulai waras dan
sadar telah salah memilihku, makanya, putus deh. Wakakakakaka!!! Dengan yang terakhir, he was a crazy
and liar married man!!! Sigh!

 T : Setelah putus, siapa yang masih menjadi teman
dekat
J : Ook. Keknya hati kita masih menyatu nih.
Hihihi…

 T : Siapa yang mempunyai pengaruh paling kuat selama
pacaran?
J : Rudy membuatku mengucap “Sigh…”. Wawan
membuatku berhenti merokok. Dengan Jefri aku merokok lagi!! Hahahaha

 T : Siapa yang paling kau dambakan?
J : Wawan… huwaaaaaaaaaa I miss you!!!

 T : Siapa yang kau anggap “He is the one.”
J : Saat pacaran sih semua kuanggap gitu deh,
kecuali Jefri. Tapi semuanya berantakan juga! Sigh!

 T : Siapa yang paling membuatmu terbadai?
J : Rudy dan Wawan. Menghempasku dalam ilusi
merah yang resah, sepi dan sakit!! Ich, bodoh banget aku ini! Wake up, girl!
Sigh!

 T : Ada yang meninggalkan rasa sakit hati mendalam? Mengapa?
            J : Wawan. He was just gone… like a thief and he had stolen my heart. Sigh

 T : Pacarmu memberimu hadiah?
J : Rudy yang paling banyak memberi hadiah. Hihihi…
Kenthut dan Wawan blum pernah. Kere, pengangguran sih!

T : Ada yang memberi vibrator?
            J : Weks! Gila man!! I hope, actually.
Wakakakakakak!!!

T : Pacarmu suka melakukan kekerasan?
J : Physically enggak, tapi rasanya Rudy deh yg intimidasi psikis.

T : Pacarmu cemburuan?
J : Cemburuan sih enggak, tapi–kecuali yang pertama–rata-rata gak terlalu menyelidik dan gak suka klo aku berteman dekat dengan pria lain.

T : Pacarmu ngasih bunga?
J : Hihihi… Cuma yang pertama yang pernah gitu. Kasihan deh gue gak pernah punya pacar romantis :p

T : Pacarmu bilang kau sexy?
J : Keknya cuma Rudy, Ook dan Jefri deh. Tapi semua bilang aku smart. Wekekeke… narsis banget!!

T :  Apa panggilan sayang paling kau suka? Siapa yang memberi?
J :  Panggilan "kasih…" dari Wawan. Keknya hangat dan sangat personal, gitu. Tapi aku juga suka dipanggil "nduk", Wawan dan Ook yang manggil kek gitu.

 T : Ngapain aja kalau pacaran?
J : Nonton film, jalan di mall, ke toko buku, ke
toko kaset, diskusi, berdebat, duduk ngobrol di teras, email-emailan, saling
telpon dan sms, nonton teater, nonton bola, nonton sawah, nonton pesawat terbang, makan
bareng, pijet-pijetan, naek gunung, nyuci mobil, ke pasar, peluk-pelukan, frenchkissing,
hihihi…

 T : Siapa yang bayar makanan atau tiket nonton
klo pacaran?
J : Gantian, mana yang ngajak dan punya uang lah!

 T : Ada yang pernah ngutang dan gak bayar?
           J : Ada.
Jefri. Sigh…

 T :  Semua pacarmu menciummu di bibir?
J : Hihihi… kecuali Rudy dan Wawan

 T : Mengapa?
J :  Mereka blum pernah nyium. Dah putus sebelum sempat ketemu. Hahaha…
khayal banget gak sih?

 T : Pernah ML?
J : Gak ah! Save the best for last :D

T : Klo bisa mengulang, pilih mengulang pacaran
ma siapa?
J : Dari kelima itu? Gak deh, makasih!!! Ma si
sexy Seal atau si gaek Koizumi aja deh timbang ma mereka lagi!! Wakakakaka!!!

Doa Petani

April 24th, 2006 by haleygr

Petani
Kudengar Mbah Kung[1]
berdendang riang sambil bekerja di sawahnya yang tak seberapa luas. Tangan
tua yang legam terbakar matahari itu lincah mengayunkan pacul, dirapikannya
tanah yang membentang sepanjang pematang.

Mbah Kung sudah tidak muda lagi. Usia Beliau
77 tahun di bulan Agustus mendatang. Mbah
Kung
tidak tahu persis tanggal kelahirannya. Beliau hanya ingat, ketika kemerdekaan
Indonesia diproklamasikan, usia Mbah Kung saat itu baru saja menginjak
16 tahun. Mbah Buyut, orangtua Mbah Kung, sudah mulai merembug jodoh
untuk Mbah Kung. Namun Mbah Kung memilih jalannya sendiri. Ditinggalkannya
desanya di Wonogiri menuju
kota Yogyakarta agar bisa ikut serta dalam
kegembiraan kemerdekaan. Hingga akhirnya bergabunglah Mbah Kung dalam pasukan gerilya di daerah Kedu selama perang
revolusi.

Selesai
perang revolusi Mbah Kung memilih
untuk pulang ke desa. Saat itu Mbah Kung
menikah dengan Sipon–yang kemudian menjadi Mbah
Putri
saya. Praktis kehidupannya berlanjut di desa. Mbah Kung membantu Mbah Buyut
mengusahakan sawah, karena Mbah Kung-lah
anak satu-satunya.

Sementara
aku adalah cucu tertua Mbah Witoatmodjo.
Mungkin aku cucu yang paling dekat dengan Simbah.
Sejak SD hingga SMA, setiap liburan aku
selalu mengunjungi Simbah. Ketika
liburan kelas 4 SD, orangtuaku sudah melepaskan aku naik kereta api Argo Lawu sendirian
dari
Jakarta ke Solo, agar aku bisa berlibur di rumah Simbah di Wonogiri. Sampai di Stasiun Balapan
Solo, Bu Lik[2]
Yanti yang sekolah di Solo sudah menungguku disana dan akan mengantarku ke
rumah Simbah.

Sekarang
aku di tahun ketiga perkuliahanku di Fakultas Pertanian UGM. Aku ingin menjadi
petani, seperti Mbah Kung. Sebulan
sekali di akhir pekan, aku mengunjungi Mbah
Kung
, dan ikut turun ke sawah dengan Mbah
Kung
.

Pagi ini,
kesekian kalinya aku bekerja dengan Mbah
Kung
di sawah. Kusiangi rumput-rumput liar yang tumbuh di sela padi yang
subur. Kubiarkan kakiku telanjang dan penuh lumpur, tanpa sepatu bot. Tanah
sawah Mbah Kung hitam berkilat, gembur dan banyak cacingnya. Ini semua karena pupuk
kandang dari kandang sapi belakang rumah.

“Itulah Wan, Mbah Kung ora kerso[3] pake pupuk dari koperasi. Jadinya ya Pak
Lik-mu ini yang harus sedikit repot bantu ngangkat tai dari kandang. Coba kalau
mau, kan mudah, tidak perlu butuh pupuk sebanyak ini. Pupuknya pun bisa diantar
pegawai koperasi langsung ke sawah, tinggal tambah sedikit ongkos.”
Gerutu
Pak Lik Sardi sambil menurunkan pupuk kandang di gerobak dengan sekopnya.

“Lha wong sekarang ini apa-apa kan sudah maju. Pupuk
tinggal beli. Kalau belum ada uang, ngutang pun bisa. Kalau ada hama, di toko
juga banyak pilihan obatnya, tapi Simbahmu itu tetep aja pakai cara kuno
seperti ini. Ingat gak dua tahun lalu, sawah Mbah Kung ini hampir habis
diserang keong mas. Heh!”
Disekanya keringat yang mengucur deras di dahi. Mahatari sudah sangat menyengat
pada pukul 8 pagi itu. Aku tak membalas ucapan Pak Lik Sardi. Kuteruskan
pekerjaanku mengangkat pupuk ke sawah.

“Memang aneh Mbah Kung itu, Wan.
Coba kau pikir, semua tetangga tanam padi bisa 3 kali setahun, atau paling
tidak 5 kali dalam dua tahun. Lagi-lagi kemajuan jaman, tanah tidak usah
dibero-kan masih bisa memberikan hasil yang baik. Kalau Simbahmu ya tetep aja
tanam padi 2 kali setahun. Alasan Mbah Kung biar tanahnya istirahat.. Lha wong
tanah kok istirahat, apa sekalian aja tanahnya dijadwal tidur siang. Aneh-aneh
saja.”

Aku tertawa
dalam hati mengingat gerutuan Pak Lik Sardi itu. Semakin sering bergaul dengan
sawah dan petani di desa ini, aku semakin memahami mengapa Mbah Kung memilih
cara yang dianggap kuno oleh Pak Lik Sardi. Aku juga memahami mengapa Pak Lik
Sardi memakai cara yang berbeda dengan Mbah Kung.

janji sabar,
tandur ra kesusu
sawahe jembar-jembar
parine lemu-lemu…[4]
 

Masih
kudengar Simbah berdendang riang, masih dengan tembang yang sama yang pernah
kukenal saat aku masih kecil. Tembang sederhana, tentang komitmen kerja yang
baik serta doa bagi Yang Maha Widi agar memberkahi kerja petani.

Terhanyut aku
ikut berdendang dengan tembang tersebut. Ikut pula terhatur sebuah doa. Namun
doa yang berkumandang tak lagi seriang lagu itu. Karena doa-doanya ialah doa intensifikasi
tanam. Sawah hampir tak diberokan, digunakan seproduktif mungkin, penggunaan pupuk
kimia, bermacam zat perangsang serta pestisida. Sawah tak lagi luas. Penduduk
semakin banyak sementara lahan terbatas. Lahan yang terbatas itupun diwariskan
pada keturunannya, dibagi sesuai jumlah yang berhak, sehingga semakin sempit
kepemilikan lahan. Bahkan di tempat lain, sawah dijual untuk industri dan
perumahan, uangnya dibelikan sepeda motor sebagai lambang gengsi, profesi pun
beralih dari petani menjadi tukang ojek.

Hmmm,
mungkin doa yang diucapkan oleh masyarakat petani memang sudah berbeda dengan
doa yang terucap dalam lagu itu. Globalisasi dengan gaya hidup konsumtif,
pragmatis, dan hedonis telah mengubahnya.


[1] Mbah
Kung (Bahasa Jawa) adalah kependekan dari ‘Simbah Kakung’ = kakek, sementara
‘Simbah’ bisa berarti kakek atau nenek
[2] Bu Lik
(Bahasa Jawa) adalah kependekan dari ‘Ibu Cilik’, yaitu perempuan adik
ibu/bapak = tante. Sementara ‘Pak Lik’ adalah kependekan dari ‘Bapak Cilik’=Om

[3] ora
kerso (Bahasa Jawa Halus)=tidak bersedia

[4] Cuplikan
sebuah tembang dalam bahasa Jawa. Artinya: “berjanji sabar, menanam tanpa
tergesa-gesa, sawahnya luas dan padinya bernas-bernas.”

 

“Ini Nyawa Kami…”

April 17th, 2006 by haleygr

 “Janganlah dik… Ini nyawa kami dik…” Pinta seorang bapak, pejabat Ketua OMS (Organisasi
Masyarakat Setempat) pada Devis, yang datang untuk melihat  dokumen Rencana Anggaran Pembangunan (RAP) saluran
dan bak air bersih yang sedang dilakukan di desanya.

Proyek PKPS BBM IP
yang masuk di desanya seharusnya membuat penduduk desa tersebut bersuka karena
air bersih akan menjadi lebih mudah diperoleh, namun proyek seharga Rp. 250
juta tersebut saat ini mandeg, ketika pembangunan belum baru berjalan seperempatnya.
Berbagai kemungkinan penyimpangan terjadi, mulai dari perpindahan sumber titik
air dari rencana awal—tanpa rembugan dan persetujuan, pengambilan bahan dari
dan dengan cara merusak bangunan lain yang sudah ada, kualitas pengerjaan yang
amburadul, hingga adanya dugaan air tak bersih yang dialirkan ke bak tersebut.

Dampak penyelewengan ini
pun tak tanggung-tanggung, bahkan menimbulkan perselisihan antar desa karena perpindahan
sumber titik air dari yang direncanakan justru membuat debit air sawah desa
tetangga.

Sementara Devis
hanyalah seorang gadis remaja yang akal dan nuraninya dipenuhi pertanyaan akan
pembangunan saluran air bersih di desanya. Pembangunan yang tak wajar
mendorongnya untuk membela hak-hak masyarakat desa yang tercerabut. Dicarinya data
mengenai pembangunan bak air tersebut, baik dengan cara mewawancarai
orang-orang yang terlibat dalam pembangunan, maupun dengan mencari data dokumen
proyek.  

Tubuh Devis yang kecil
mungil dan terlihat lemah tak menyurutkan langkahnya jika harus maju berhadapan
dengan pejabat yang garang. Oleh karena itu disertai niat yang tulus dalam
mencari kebenaran, pergilah Devis pada Ketua OMS sambil berharap bisa
mendapatkan dokumen yang dikehendakinya. Namun harapannya tersebut ternyata
disambut rengekan pejabat desa tersebut yang berkepentingan dengan “nyawa”-nya.

Mengambil analogi
nyawa, nyawa adalah sesuatu yang memberi hidup dan memampukan manusia bisa
menjalani aktivitas dunia. Ketika nyawa tak ada lagi di badan, matilah manusia.
Analogi yang disampaikan pejabat desa diatas mungkin pernah kita dengar, tapi
mendengar secara langsung rengekan pejabat tersebut sungguh membuat rasa hati
menjadi prihatin. Nyawa seorang pejabat tergantung pada RAP. Sementara dokumen
ini sendiri adalah dokumen publik layak dilihat dan diketahui masyarakat
penerima manfaat sebagai bagian dari proses kontrol terhadap pembangunan di
wilayahnya. 

Untuk menjaga
nyawanya, pejabat tersebut menghantar kepulangan Devis dengan amplop tebal
berisi sejumlah uang. Tak diterimanya amplop itu, dan masih pula dicarinya akal
untuk mendapatkan dokumen tersebut.

(Cerita masyarakat yang menuntut transparansi
dan akuntabilitas pembangunan desanya. Dari: Desa Talang Bunut, Kecamatan
Lebong Utara, Kabupaten Lebong, Propinsi Bengkulu)

Last Tango in Paris

March 31st, 2006 by haleygr

Last_tango_in_paris

irected by Bernardo Bertolucci
Produced by Alberto Grimaldi
Written by Bernardo Bertolucci (story and screenplay)
Franco Arcalli (screenplay)
Agnès Varda (additional dialogue)
Starring Marlon Brando
Maria Schneider
Music by Gato Barbieri
Released October 14, 1972 U.S. released

This is a movie I long to write, except "Cinema Paradiso". The extreme frankness of sexual activities (even rape scene) in that movie made me agaping. WOW!

It’s "merely" a porno film refined (coincidentally) by Bertolucci with big actor, Marlon Brando. Paul, a depressed widower because of his wife’s suicidal death met a young acctress, Jeanne, in a vacant apartment. In their own no-identity world, denied emotional connection, they drawn into sexual relationship. The first sexual relationship happened instantly in a minute; without agreement, without foreplay, and it was just happened!! Then the other scene describe butter "raped" sodomy, masturbation, and others. I believe every audience will shout "WOW!!"

Refered to Wikipedia, this film caused a deep scandal in Italy for the sodomy scene. the film was sequestered by censorship and officially all the copies were destroyed. An Italian court revoked Bertolucci’s civil rights for five years plus it gave him a four-month suspended prison sentence. Poor Bertolucci.

But afterall, it is a must wacthing movie. The monologue acting of Marlon Brando at the side of his wife’s covin was complimented everywhere and he was nominated for Academy Award. Many times the camera just shot the  silhoutte of the scene on the wall, including the scene of Jeanne’s masturbation. Bertolucci was really insane. Great!

Many things could be discussed from the film. The sodomy-rape… how Jeanny could be forgivefull — it seemed she memorized its sensation — although she cried its pain.  What was her motivation jumped into this clandestine sexual relationship. Also, I determined that Jeanny presented naked many times in that movie while Paul did not.

 

Maybe Jeanne was a representative of women’s frankness in sexual need and relationship. In the year of 1973, I can understand why this film was completely critized.

Asam Padeh dengan Tempoyak

March 11th, 2006 by haleygr

Asam padeh… asam pedas… Saya tak tahu ini sebenarnya masakan Padang atau
masakan Bengkulu. Karena beberapa kali saya ke Bengkulu, cita rasa masakan
disana tak jauh beda dengan masakan Padang. Namun saya ketemu asam padeh ini
di Bengkulu. Kunjungan saya yang terakhir seminggu lalu mengembalikan
kenangan tentang ikan masak asam padeh dengan campuran tempoyak, yang pertama
kali saya temui 4 tahun lalu.

Waktu itu hampir sebulan saya di
Bengkulu dan tiap hari harus berhadapan dengan sayur gulai bersantan kental.
Baik itu dalam perjalanan dari  kota Bengkulu, di Bengkulu Selatan, ataupun
di Bengkulu Utara. Entah itu gulai ikan, gulai daun pakis, ataupun gulai
jengkol yang terpaksa saya temui setiap hari di pedalaman Ketahun. Ketika
perjalanan menuju daerah Bengkulu Utara (sekarang Muko-Muko, kabupaten yang
dimekarkan), lidah dan perut mendapat hiburan yang menyenangkan. Di sebuah
desa kecil, Air Buluh, di pinggir pantai laut Indonesia, dengan mata
pencaharian penduduknya kebanyakan dari hasil laut serta sedikit hasil kebun
(karet, sawit dan durian pada musimnya), seorang teman–penduduk asli,
memasakkan asam padeh yang segar, sedep dan eksotik!

Asam padeh yang
pertama adalah asam padeh kepala ikan Manyung. Ikan yang di beberapa tempat
tidak menjadi ikan favorite, tapi di beberapa tempat yang lain sangat
diminati. Kuah tanpa santan, berasa asam-pedas-segar meresap kedalam kepala
ikan Manyung yang besar dan berdaging. Hmmm… Bumbu asam padeh sendiri
adalah bawang merah, bawang putih, cabe merah keriting, lengkuas, jahe,
kunyit, asam kandis, salam dan serai. Namun yang membuat eksotik adalah rasa
tempoyak yang dimasukkan dalam kuah tersebut, semakin menambah rasa asam,
namun harum yang…. eksotik! Hahaha… saya tak tahu bagaimana menceritakan
rasa dan aroma tempoyak.

Tempoyak sendiri sebenarnya "hanya" durian yang
diambil dagingnya dan disimpan dalam wadah tertutup supaya tetap bersih dan
tidak berulat. Tempoyak berasa asam karena proses fermentasi alami yg
terjadi, dengan aroma durian asam yg luar biasa tajam. Tempoyak ini
seringkali dibikin sambal dengan bermacam-macam rempah, kelapa halus dan
santan, serta dicampur ikan yang tidak terlalu besar (misal ikan selengek
yang penuh duri… sigh) dan pete. Sambal ini harus luar biasa pedas karena
jika tidak demikian hanya akan terasa asam dan kurang membangkitkan gairah
makan. Tapi tempoyak bisa juga dicampurkan dalam masakan yang lain, misal
gulai–masakan utama di Bengkulu selain sambal (Sigh…). Terlepas dari
aromanya yang luar biasa, tempoyak memang sangat eksotis!! Paling cocok
dicampur dalam masakan berbahan ikan. Mungkin bisa untuk mengeliminir bau
ikan yang kadang amis (digantikan aroma tempoyak yang aduhaiii…
hihihi)

Kembali ke asam padeh, beberapa hari kemudian adalah asam padeh
kedua yang kunikmati memakai jenis ikan yang berbeda. Saya lupa nama ikan
yang kedua, namun yang paling saya ingat ikan tersebut diasap terlebih dahulu
sebelum dimasak. Dasar ikan yang bener-bener fresh from the ocean, lalu
diasap sebentar di belakang rumah dengan arang bathok kelapa, rasanya
sungguh membangkitkan air liur. Ikan asap berasa agak sangit, tapi
gurih-manis dengan bumbu yang meresap kedalam serta kuah yang
asam-pedas-segar. Lengkap sudah makan siang waktu itu, ngabis-abisin nasi di
wakul. WOW!!!

Di Bengkulu seminggu lalu, sebelum balik ke Solo, saya
mampir ke Pasar Minggu, pasar induk di kota Bengkulu. Kubeli 1/2 kg tempoyak
dari ibu penjual disitu. Harganya Rp 10.000,- Harus jeli memilih tempoyak
yang baik. Diamati dulu, diaduk, dan melihat lingkungan sekitar penjual. Oh,
masih ada butir-butir biji durian tersebar disamping penjual… tandanya si
penjual "membuat" tempoyak on site, bukan tempoyak yang dibikin di rumah,
yang mungkin sudah dicampur tepung. Di baskom pun tempoyak terlihat
memiliki warna daging yg merata, putih kekuningan, serta kelembekan yang
merata pula. Tandanya si durian yang mempunyai kematangan yang merata pula
dan dari jenis durian yg sama, bukan durian matang dicampur durian mengkal
dengan jenis yang beragam. Lalu 1/2 kilogram tempoyak dibungkus plastik, dan
jangan lupa masukkan tupper ware, tutup rapat, agar aromanya yang tajam tidak
terlalu mengganggu teman perjalanan di pesawat.

Di rumah, kumasak
walau hanya dengan ikan tongkol, kubawa sebagian ke kantor, dan yang kebagian bersuka.